Archive for December, 2007

sicko??

Thursday, December 27th, 2007

sick..ooooo

Apresiasi terhadap film sicko.. the important thing in life is health. Yup kesehatan. Ketika kau sehat..kau akan menikmati hal lainnya dengan lebih nikmat. Aku lebih memilih sederhana atau pas-pasan tapi sehat selalu daripada banyak duit tapi sakit-sakitan setiap saat. Apalagi… sekarang penyakit itu aneh-aneh aja. Kadang aku heran kenapa bisa ada penyakit ehm…misalnya tumor otak yang tumbuh di saluran telinga… denger kata tumor aja udah ngeri..pake milih-milih tempat lagi di telinga. How..horrid…. atau ada kista di otak.. segala macam jenis kanker.. heart attack or somethin..penyumbatan pembuluh darah, diabetes… wow…. wow..dan wow… Sebegitu kompleksnya sistem dalam tubuh manusia ini sehingga penyakitnya pun sangat komplek lengkap dari A-Z. oleh karena itu adalah hal yang bijak buat para elite politik di setiap negara untuk memperhatikan sistem pelayanan kesehatan universalnya. Eh salah nasional ding. Perancis dan Inggris well.. dalam film SIcko digambarkan telah memiliki sistem pelayanan kesehatan yang baik. Well di sana berobat, opname, dll adalah gratis. Asli gratis… kalaupun bayar cuman 6,65 poundsterling. Dan tidak masalah apakah kau penduduk Inggris atau prancis,,, ketika kau sakit…kau akan mendapat perawatan maksimal dan tidak perlu takut akan bayaran. Ga tau apakah pelayanannya tetap sama ketika pasiennya imigran illegal.. ga dijelaskan. Yang pasti ketika mendengar kata gratis aku langsung membayangkan hemm kapan di Indonesia bisa berobat gratis setiap saat. Oh ya saat ini aku sedang mengalami komplikasi penyakit telinga yg ga parah Cuma sangat menyebalkan. Telinga kananku dulu kena otitis media dengan perforasi..sembuh n kambuh lagi karena aku nyebur ke pantai n sekarang malah kena jamur. Telinga kiri yang notabene baik2 aja malah radang lagi.. n ada benjolan sebesar kacang ijo pas di depan gendang telinga. Hem…almost 4 months aku rajin berobat ke THT Sarjito dan selama itu aku senang sekali memperhatikan sistem pelayanan kesehatan Sarjito yang THH., lelet n hem apa ya birokratis… penuh stempel… (aku menyimpulkan birokrasi identik dengan stempel sana-sini). Ya seperti itu. Kalau dibandingkan dengan sistem pelayanan kesehatan nasional di Inggris, indonesia Cuma hem…apa ya semacam lepas angin.. ga ada apa-apanya sama sekali. Udah ribet, obat mahal dan lain-lain. Aku mengakumulasikan biaya pengobatan telingaku tercinta dan hasilnya dah bisa beli buku bagus banget sampe 10 biji, baju bermerk kalo diskon ehm… 7.. dan biaya hidupku selama sebulan. Kampret juga sih Cuma no free lunch dear… aku jd pengen tinggal di Inggris biar biaya pengobatannya gratis dan terjamin. Ngengek…. Tapi tulisan ini bukan soal keluhanku terhadap pelayanan kesehatan di sarjito.. hanya sekedar renungan aja///udahlah aku udah mahfum sama birokrasi yang bisa bikin kita kurus… tiap berurusan sama birokrasi kita akan menghabiskan energi, emosi, waktu dan pikiran sehingga cukup untuk membuat kita kesal n perlu pelampiasan terhadap kekesaln tersebut. Aku mengatasinya dengan makan mie ayam n minum kopi. Indonesia emang parah. Dari atas sampe bawah parah. Malas sih ngungkapin keparahannya, soale hem… aku ga tau serumit apa tugas para elit politik itu. Aku hanya bisa menilai dari luar, yang tampak…. yang ga beres dan itu yang membuat aku Cuma bisa menggerutu.. kalo aku di dalam, masuk ke jajaran elite politik.. menyadari betapa ribetnya… mungkin aku akan berhenti menggerutu.. Tetapi allow me to share a story… sewaktu aku di sarjito untuk kesekian kalinya dan mengamati dinamika orang yang lalu lalang di depan meja pendaftran..aku menyadari satu hal.. kalo pake askes atau GMC,, bersiap-siaplah mutar-mutar to get stempel yang tidak seberapa itu dan ketika kau adalah pasien umum..lebih cepat mendapat pelayanan… ga perlu nunggu terlalu lama seperti mereka yang pake askes. Yang pake askes= orang menengah bawah.. ga punya duit dan sangat mengharapkan biaya pengobatan yang minimalis kalo perlu gratis.. that’s why they use askes.. dan dunno feel like mereka dipersulit untuk mendapat pengobatan. Contohnya..ada kan bapak-bapak udah tua banget asalnya dari mana yah..kayak nya daerah pedesaan di Jogja dapat surat rujukan dari puskesmas di desanya.. terus rupanya dia dirujuk ke PKU Muhammadiyah. Nah ga tau ya si bapak udah pikun kali sehingga terdampar dia di sarjito dan kemudian dengan tampang tak berdosa dan bingung nanya ke staf yang satu.. dilempar ke staf yang lain.. terus ditanya pake askes ga? Ga punya Cuma punya surat keterangan miskin..dilempar lagi ke staf yang pertama.. terus liat rujukannya oh..pak …niki neng PKU muhamadiyah bukan di sarjito. Trus si bapak yang capek ngantri…dia ngantri loh.. hanya bisa diam terus bingung. Aku ngeliatnya Cuma bisa membatin dalam hati, prek.. tolong aja kenapa..dia dah punya surat keterangan miskin kenapa harus disuruh ke PKU lagi. capek tau. Dah ngantri muter-muter eh malah ga dapat apa2. sumpe di situ aku kesal dan menyayangkan sebagian sistem pelayanan (kalo ga bisa disebut semua) yang seringkali menyulitkan orang miskin dan diskriminatif.. a little. Entahlah,,aku percaya setiap orang pasti punya hati nurani.. dan aku ga ngerti di mana hati nurani petugas-petugas di sarjito itu…. Ketika melihat orang yang udah kuyu,,capek dibola-bola, bingung.. oke mereka juga sibuk menjalankan tugasnya. Setiap hari berhadapan dengan ratusan pasien yang semuanya pengen didahulukan, pengen mendapat pengobatan. Tapi ketika ga punya uang,,, diabaikan begitu aja atau dipersulit begitu aja. Ditinggalin kek orang bego dan akhirnya termangu ditengah lautan manusia yang mungkin (atau tidak) mengalami nasib yang sama. Kadang aku merasa ada error di sistem ehm…pelayanan kesehatan, politik, pendidikan, hukum dan semacamnya. Dan setiap lobang-lobang di sistem itu biasanya selalu merugikan mereka kaum kecil yang tidak berdaya,,,, yang ga punya power dan materi yang Cuma bisa jadi victim… yang semakin menderita…. Ketika sistem eror itu terus berjalan dan akhirnya mereka mati. Aku tau negara dan strukturnya rumit… harus gini, gitu dan yang diurusi bukan Cuma wong cilik… ada banyak…belum lagi ketika kepentingan pribadi bicara… semakin tersingkirlah mereka dari arena kehidupan. Sedih..emang dan makin sedih ketika aku ga bisa melakukan sesuatu yang signifikan untuk menutup lubang dalam sistem tersbut. Yah Indonesia emang bukan negara kaya….. tetapi Kuba yang masuk dalam jajaran dunia ketiga aja bisa memiliki sistem pelayanan kesehatan yang baik yang tidak merumitkan warganya…yang ga membuat kta kapok ke rumah sakit… amerika serikat yang termasuk hegemon dalam dunia internasional aja menduduki peringkat terendah dalam sistem pelayanan kesehatan universal versi WHO. Karena apa? Keuntungan pribadi… baik dari rumah sakitnya, pihak asuransi kesehatan dan bahkan anggota2 legislatif termasuk hehe…presidennya. Dan semuanya merugikan orang-orang kecil. Yang ga bisa membayar… Itu baru contoh dari pelayanan kesehatan yang buruk… gimana hal lainnya? Well aku rasa tulisanku jadi melebar menjadi hemm tanggapan untuk orang-orang kecil. Orang kecil selalu jadi korban ketidakadilan, kesalahan sistem dan semacamnya. Dan itu menimbulkan satu pertanyaan dalam otakku…kenapa harus selalu orang kecil, orang miskin, orang yang ga punya power? Jawabannya: satu..karena mereka seperti itu,,,kerugian mereka tidak terlalu signifikan buat mereka yang menikmati sistem yang sedang berlaku (baca: elite politik, orang kaya,,punya power..prek!). dua kalo mereka protes gampang diganyang secara they don’t have power.. langsung dibunuh juga ga pa pa…paling hanya menghiasi seperempat halaman kecil Koran ecek-ecek di bagian kriminalnya. Ketiga mereka juga gampang disuap..kasih uang tutup mulut sekedarnya… that’s enough. Keempat gampang dipengaruhi juga… karena keterbatasan pendidikan.. gampang dibuai janji keling dan semacamnya. Orang kecil sasaran empuk dari gerombolan pengeruk keuntungan… gosh… horrible. Dan bagaimana orang kecil memandang kehidupan itu sendiri? Sesuatu yang aku anggap sangat berharga.. hadiah dari Kristus untukku melalui rahim mamakku. Yang pasti bagi mereka hidup adalah perjuangan…it’s about survival. Gimana caranya kau bisa makan hari ini,,,atau memberi makan anak istri kalo punya.. tau kan ungkapan” dah bisa makan aja sukur,,,ngapain mikirin hal-hal lain”. Seperti itu. Dan semakin terpuruklah mereka. Padahal menjadi kaya juga sulit… pilihan apa yang sisa? Aku ga suka dengan buku-buku yang nulis menjadi kaya gampang, biarkan uang yang mengejar anda…uang bekerja untuk anda. Beu..kalo emang kek gitu… orang miskin di dunia ini ga banyak lah… fakta di lapangan bicara…tetap masih banyak orang miskin papa berkeliaran di dunia ini. Atau mereka ga pernah baca buku itu kali? Terlalu mahal… hahahahahahahahhahahah goblok… Situasi yang aku hadapi almost every day ini membuat aku semakin simpati sama orang-orang kecil..apalagi yang tetap optimis, tidak gampang nyerah dan berusaha untuk memperoleh better life. Persetan sama gepeng-gepeng yang Cuma menadahkan tangan dan nunggu dikasih duit.. padahal masih sehat n masih fit. Kelima indranya bekerja sempurna. Go to hell buat para orang tua yang nyuruh anaknya turun ke jalan nemenin dia buat menciptakan empati n simpati dari orang lain biar ngasih duit.. apalagi yang milih jalan pintas kayak jadi pencopet… jambret yang ga segan-segan bunuh korbannya. Itu ga masuk itungan. Walaupun mereka ga sepenuhnya salah. Sistem yang berlaku yang terkadang membuat mereka tetap seperti itu. Ketiadaan kesempatan membuat mereka tetap betah berada dalam tempurung lapuknya. Namun ada juga yang sukses karena mereka berusaha dan ga gampang nyerah yang terus menginspirasi aku untuk terus berjuang.. Selalu ada harapan… bahkan ketika kau berada di situasi tersulit yang kau rasa ga bisa kau atasi. Bagiku …. harapan itu adalah Yesus Kristus. Dan itu yang membuat aku tetap optimis sampe sekarang..bahkan mulai memantapkan langkah untuk menjadi hem….pekerja sosial bukan buat orang kaya tetapi orang miskin, orang kecil yang termarginalkan..yang ga tersentuh…dan semacamnya. .. aku yakin prosesnya bakal panjang dan lama tetapi aku akan menikmati setiap detiknya karena aku ga kehilangan apa-apa ketika aku mengasihi mereka… apalagi aku berbagi kasih Kristus…karena kalo cm dari aku…. ga akan cukup… terus inti tulisanku apa ya… Hem.. di tengah sistem yang bobrok ini..orang-orang yang saling berkeluh kesah termasuk aku.., pemerintahan yang korup, kriminalitas tinggi, orang-orang saling bunuh..orang miskin semakin banyak, et cetera…et cetera….et cetera….. there’s always be a HOPE that makes me believe… this world is gonna change… just like John Meyer said… Me and all my friends

We’re all misunderstood

They say we stand for nothing and There’s no way we ever could Now we see everything that’s going wrong With the world and those who lead it

We just feel like we don’t have the means To rise above and beat it So we keep waiting Waiting on the world to change

We keep on waiting Waiting on the world to change

It’s hard to beat the system When we’re standing at a distance

So we keep waiting Waiting on the world to change

Now if we had the power To bring our neighbors home from war They would have never missed a Christmas No more ribbons on their door

and when you trust your television What you get is what you got Cause when they own the information, oh They can bend it all they want That’s why we’re waiting Waiting on the world to change We keep on waiting Waiting on the world to change It’s not that we don’t care, We just know that the fight ain’t fair So we keep on waiting Waiting on the world to change And we’re still waiting Waiting on the world to change We keep on waiting waiting on the world to change One day our generation Is gonna rule the population So we keep on waiting Waiting on the world to change We keep on waiting Waiting on the world to change

Best regards, Lina Andayanti Lumbanraja

Renungan awal di usiaku yang ke-21..

Thanx Jesus karena tetap membiarkanku menghirup udara kehidupan dariMU selama 21 tahun ini…..

sepenggal kisah dari balik jendela bis kota

Thursday, December 6th, 2007

Siang
itu seorang gadis manis menaiki bis

kota

.
Bertemu kekasihnya di bagian selatan

Yogyakarta

.
Dia sengaja datang jauh dari utara untuk sekedar bercengkerama dengan sosok
yang dia sayangi. Berangkatlah dia. Dia berusaha untuk tidak tampil
mencolok…mengingat banyaknya kasus pencopetan yang terjadi di bis

kota

. Kaus abu2 dan celana
jeans hitam..tas hitam…hm…dia kelihatan seperti kebanyakan penumpang di bis

kota

. Sepanjang perjalanan
dia selalu melongok ke luar..melihat etalase berjalan melalui jendela bis

kota

. Orang-orang dengan
segala kegiatan mereka.

Ada

yang sekedar duduk, menunggui jualannya, ada yang bercengkerama, ada yang
kipas2 karena cuaca yang memang agak tidak bersahabat. Pengamen yang mengais
rupiah, pengendara motor, mobil, anak2 yang pulang sekolah. Semuanya seakan
menjadi hiburan tersendiri bagi si gadis. Hiburan yang membuat dia bertanya2.
apakah semua orang melakukan hal yang sama setiap hari? Sesuatu yang kita sebut
dengan rutinitas? Apa ada orang yang rutinitasnya berbeda setiap hari? Atau
tidak punya rutinitas sama sekali selain makan, tidur, mandi dan bengong? Hm…
itu juga rutinitas, batinnya. Rutinitas yang membunuh kreativitas dan
produktivitas. Dan apa rutinitas si gadis manis ini? Sesungguhnya dia sedang
tercerabut dari rutinitasnya. Liburan….memaksanya meninggalkan rutinitas yang
selama ini dilakoninya dan membuatnya menjalani hari dengan kegiatan yang sama
sekali tidak bisa dia bayangkan. Setiap hari terasa sangat membosankan. Tanpa
ada kegiatan yang berarti, yang berguna dan menguras energi. Si gadis bosan.
Makanya dia menemui kekasihnya untuk sekedar ngobrol dan membunuh waktu.

 

Asyik
dia memandang ke luar jendela. Menyaksikan perjuangan para pekerja kasar
menentang matahari demi sesuap nasi. Phew…lihat itu kulit dan keringatnya… benar2
berani dia menantang teriknya si raja siang. Wah bagaimana dengan orang2 yang
ada di ruangan ber-AC? Pasti langsung modar klo disuruh kerja seperti ini,
pikirnya. Coba aja disuruh setengah jam berdiri di bawah terik matahari,,,pasti
langsung pusing. Hm… sepertinya setiap orang emang punya jalan masing2. mungkin
sudah nasib para kaum pinggiran ini untuk menjadi sahabat matahari, yang setia
menjalani hari dengan terik, debu dan keringat. Dan mungkin sudah nasib mereka
yang kerja di kantoran dan menikmati udara buatan yang nyaman, dingin tapi ga
baik buat kesehatan. Si gadis berpikir,,,,apa mungkin mereka yang sekarang
sedang menjadi pekerja kasar, serabutan, orang2 kecil inilah menjadi orang
besar? Menikmati AC, menaiki mobil, segalanya serba mentereng? Apa benar roda
kehidupan itu berputar? Kalau yang memutar roda kehidupan manusia itu
sendiri….apa ada kesempatan buat masyarakat papa ini untuk mendapat kehidupan
yang lebih baik….

 

Tiba2
saja benak si gadis dipenuhi beribu pertanyaan. Yang jawabannya beragam. Yang
jawabannya tergantung pada latar belakang yang menjawab. Benang merahnya hanya
sebuah kalimat….ini nasib saya.

 

Si
gadis membanding2kan kehidupan orang2 kaya. Yang rata2 bisa mendapatkan apa
yang mereka mau dengan mudahnya. Apalagi ukuran untuk mendapatkan keinginan itu
masih dinilai dengan materi. Semakin banyak materi yang kita punyai…semakin
gampang kita mendapat sesuatu…yang pastinya dinilai dengan materi juga.
Sayangnya….hal2 yang selama ini murni tanpa embel2 uang…mulai digerogoti
nilai-nilai nominal 100, 200, bahkan seratus ribu rupiah. Hm……….. betapa cepat
zaman berubah dan berlalu. Menggantikan nilai2 yang dulu tidak bisa dinilai
dengan uang menjadi dapat dibeli dengan uang. Rasanya setiap individu itu
seakan dirasuki setan duniawi…setan yang membuat manusia tidak manusiawi lagi.
Si gadis membatin..jangan2 aku sudah kerasukan.

 

Si
gadis memfokuskan pandangannya pada pengamen cilik yang berbaju kuning kumal,
yang memegang kincrung dan bernyanyi di bis

kota

ketika lampu merah. Wajahnya adalah
saksi bisu perjuangannya bersama matahari. Siang2 begini masih semangat juga
bibir kecil itu mengumandangkan lagu yang menceritakan derita anak2 jalanan…itu
julukan yang diberikan orang awam kepada mereka. Entah sebagai siapa mereka menilai diri mereka sendiri. Apa dia
pernah merasakan enaknya bersekolah, kalau bisa disebut enak mengingat banyak
anak yang enggan bersekolah karena alasan2 tertentu. Apa dia pernah makan
makanan 4 sehat 5 sempurna plus susu. Apa dia pernah memainkan permainan yang
diimpor dari Cina?? Mobil2an, lego, apa pun itu. Sayang sekali….mereka harus
merasakan kerasnya kehidupan di usia yang sangat belia. Usia yang seharusnya
diisi dengan kegembiraan, kesukaan dan juga bekal untuk menghadapi tekanan
hidup yang sesungguhnya. Hm…. Sayang juga ya….batin si gadis. Sambil memberikan
uang receh pada si pengamen cilik, si gadis memberikan senyumnya yang paling
simpatik dan berpikir lagi…apa pernah terbersit dalam pikirannya,,coba aku bisa
sekolah, coba aku jadi anak orang kaya, andai aku lahir dari rahimnya
Krisdayanti,,,….hahahahah si gadis tersenyum sendiri dengan khayalannya. Apa pernah anak ini berandai2
kalau saja posisinya tidak seperti sekarang…apa mau dia bertukar? Dengan orang
yang mau mungkin.

Lima

menit saja untuk merasakan seperti apa kenikmatan duniawi yang dikejar hampir
seluruh mahluk yang bernafas di dunia ini.

 

Si
pengamen dengan semangat melanjutkan perjuangannya ke bis lain. Mungkin dia
sudah sangat nyaman dengan kehidupannya. Keras memang dan mengundang rasa
prihatin dari orang tetapi dia sudah settle dengan itu. Bayangkan saja ketika
kau melakoni hidup sebagai seorang narapidana selama 20 tahun dan kau bebas.
Pasti kau akan merasa asing ketika berada di tengah2 masyarakat dan memulai
aktivitas barumu..klo tidak bisa dibilang sebagai hidup baru. 20 tahun
menjalani hari dalam tembok2 tinggi dan ketika tembok2 itu hilang….satu yang
kau rasakan…ketidaknyamanan. Liat aja film Shawshank Redemption for a brief
explanation.

 

Yup
itu juga yah yang berlaku bagi mereka….ketika peran mereka sebagai anak jalanan
berakhir dan diganti menjadi anak adopsi dari keluarga berada…kemudian
bersekolah…lengkap dengan aturan baru dan mengikat…hm……. Lebih baik di jalanan,
pasti itu pikiran mereka.

Tetap
saja tidak adil. Mereka bagaimanapun harus merasakan indahnya dunia
anak2..dunia di mana kau bisa menjadi orang yang sangat jujur tanpa ada yang
menghakimi.

 

Si
gadis jadi miris sendiri melihat pertarungan hidup ini. Semuanya berjuang.

Ada

yang berjuang supaya
bisa makan…minum…ada yang berjuang supaya bisa diakui orang, berjuang supaya
bisa merasa aman. Dilakukan dengan berbagai cara, bahkan tetap dilakoni walau
mengorbankan kepentingan orang lain. Semuanya demi satu tujuan, yang sangat
simple, sederhana dan naluriah….survival..staying alive. Masalah lain yang
menyangkut soal menikmati kemudahan yang ditawarkan dunia adalah hal kedua.
Sama aja to…klo tidak hidup. Tiba2 saja si gadis lebih menghargai hadiah
kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Si gadis yakin ini bukan hadiah
Cuma2. ada maksud tertentu yang Tuhan titipkan pada hadiah itu. Dan melalui
proses yang panjang, kelak si gadis akan mengerti apa tujuan Tuhan melemparkan
dia ke dunia ciptaanNya yang luar biasa ini.

 

Aku
masih muda, batin gadis itu. Segala yang ada padaku masih mendukungku untuk
melakukan apa pun. Semuanya masih berfungsi dengan maksimal . sayang sekali
kalau hanya kusia2kan untuk berpikir tanpa ada aksi yang jelas. Mumpung tulang
saya belum keropos, otak masih cemerlang, fisik masih prima….ayo lakukan
sesuatu. Apa??? Apa pun yang bisa menambah kualitas hidup kita dan kualitas
hidup sesama. Nilai2 kemanusiaan sudah mulai kering…sirami lagi biar basah dan
mekar. Pasti akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Well jangan sekedar
bicara…do something. Dunia sudah cukup dengan orator2 yang sempurna..tapi
krisis pelaku…actor yang sebenarnya dalam kenyataan hidup sejati. Dan itulah
panggilanmu gadis manis.. atau mungkin kamu yang sedang membaca cerpen picisan  saya yang  penuh protes sosial ini? heheheheheh

 
Bis
terhenti. Si gadis turun. Di ujung jalan sudah menanti kekasihnya dengan
penampilan yang sangat sederhana tapi sempurna. Dan si gadis menemui kekasihnya
bersama dengan segudang cerita dalam otaknya. Cerita kehidupan yang
diperolehnya dari balik jendela bis

kota

.