sepenggal kisah dari balik jendela bis kota

Siang
itu seorang gadis manis menaiki bis

kota

.
Bertemu kekasihnya di bagian selatan

Yogyakarta

.
Dia sengaja datang jauh dari utara untuk sekedar bercengkerama dengan sosok
yang dia sayangi. Berangkatlah dia. Dia berusaha untuk tidak tampil
mencolok…mengingat banyaknya kasus pencopetan yang terjadi di bis

kota

. Kaus abu2 dan celana
jeans hitam..tas hitam…hm…dia kelihatan seperti kebanyakan penumpang di bis

kota

. Sepanjang perjalanan
dia selalu melongok ke luar..melihat etalase berjalan melalui jendela bis

kota

. Orang-orang dengan
segala kegiatan mereka.

Ada

yang sekedar duduk, menunggui jualannya, ada yang bercengkerama, ada yang
kipas2 karena cuaca yang memang agak tidak bersahabat. Pengamen yang mengais
rupiah, pengendara motor, mobil, anak2 yang pulang sekolah. Semuanya seakan
menjadi hiburan tersendiri bagi si gadis. Hiburan yang membuat dia bertanya2.
apakah semua orang melakukan hal yang sama setiap hari? Sesuatu yang kita sebut
dengan rutinitas? Apa ada orang yang rutinitasnya berbeda setiap hari? Atau
tidak punya rutinitas sama sekali selain makan, tidur, mandi dan bengong? Hm…
itu juga rutinitas, batinnya. Rutinitas yang membunuh kreativitas dan
produktivitas. Dan apa rutinitas si gadis manis ini? Sesungguhnya dia sedang
tercerabut dari rutinitasnya. Liburan….memaksanya meninggalkan rutinitas yang
selama ini dilakoninya dan membuatnya menjalani hari dengan kegiatan yang sama
sekali tidak bisa dia bayangkan. Setiap hari terasa sangat membosankan. Tanpa
ada kegiatan yang berarti, yang berguna dan menguras energi. Si gadis bosan.
Makanya dia menemui kekasihnya untuk sekedar ngobrol dan membunuh waktu.

 

Asyik
dia memandang ke luar jendela. Menyaksikan perjuangan para pekerja kasar
menentang matahari demi sesuap nasi. Phew…lihat itu kulit dan keringatnya… benar2
berani dia menantang teriknya si raja siang. Wah bagaimana dengan orang2 yang
ada di ruangan ber-AC? Pasti langsung modar klo disuruh kerja seperti ini,
pikirnya. Coba aja disuruh setengah jam berdiri di bawah terik matahari,,,pasti
langsung pusing. Hm… sepertinya setiap orang emang punya jalan masing2. mungkin
sudah nasib para kaum pinggiran ini untuk menjadi sahabat matahari, yang setia
menjalani hari dengan terik, debu dan keringat. Dan mungkin sudah nasib mereka
yang kerja di kantoran dan menikmati udara buatan yang nyaman, dingin tapi ga
baik buat kesehatan. Si gadis berpikir,,,,apa mungkin mereka yang sekarang
sedang menjadi pekerja kasar, serabutan, orang2 kecil inilah menjadi orang
besar? Menikmati AC, menaiki mobil, segalanya serba mentereng? Apa benar roda
kehidupan itu berputar? Kalau yang memutar roda kehidupan manusia itu
sendiri….apa ada kesempatan buat masyarakat papa ini untuk mendapat kehidupan
yang lebih baik….

 

Tiba2
saja benak si gadis dipenuhi beribu pertanyaan. Yang jawabannya beragam. Yang
jawabannya tergantung pada latar belakang yang menjawab. Benang merahnya hanya
sebuah kalimat….ini nasib saya.

 

Si
gadis membanding2kan kehidupan orang2 kaya. Yang rata2 bisa mendapatkan apa
yang mereka mau dengan mudahnya. Apalagi ukuran untuk mendapatkan keinginan itu
masih dinilai dengan materi. Semakin banyak materi yang kita punyai…semakin
gampang kita mendapat sesuatu…yang pastinya dinilai dengan materi juga.
Sayangnya….hal2 yang selama ini murni tanpa embel2 uang…mulai digerogoti
nilai-nilai nominal 100, 200, bahkan seratus ribu rupiah. Hm……….. betapa cepat
zaman berubah dan berlalu. Menggantikan nilai2 yang dulu tidak bisa dinilai
dengan uang menjadi dapat dibeli dengan uang. Rasanya setiap individu itu
seakan dirasuki setan duniawi…setan yang membuat manusia tidak manusiawi lagi.
Si gadis membatin..jangan2 aku sudah kerasukan.

 

Si
gadis memfokuskan pandangannya pada pengamen cilik yang berbaju kuning kumal,
yang memegang kincrung dan bernyanyi di bis

kota

ketika lampu merah. Wajahnya adalah
saksi bisu perjuangannya bersama matahari. Siang2 begini masih semangat juga
bibir kecil itu mengumandangkan lagu yang menceritakan derita anak2 jalanan…itu
julukan yang diberikan orang awam kepada mereka. Entah sebagai siapa mereka menilai diri mereka sendiri. Apa dia
pernah merasakan enaknya bersekolah, kalau bisa disebut enak mengingat banyak
anak yang enggan bersekolah karena alasan2 tertentu. Apa dia pernah makan
makanan 4 sehat 5 sempurna plus susu. Apa dia pernah memainkan permainan yang
diimpor dari Cina?? Mobil2an, lego, apa pun itu. Sayang sekali….mereka harus
merasakan kerasnya kehidupan di usia yang sangat belia. Usia yang seharusnya
diisi dengan kegembiraan, kesukaan dan juga bekal untuk menghadapi tekanan
hidup yang sesungguhnya. Hm…. Sayang juga ya….batin si gadis. Sambil memberikan
uang receh pada si pengamen cilik, si gadis memberikan senyumnya yang paling
simpatik dan berpikir lagi…apa pernah terbersit dalam pikirannya,,coba aku bisa
sekolah, coba aku jadi anak orang kaya, andai aku lahir dari rahimnya
Krisdayanti,,,….hahahahah si gadis tersenyum sendiri dengan khayalannya. Apa pernah anak ini berandai2
kalau saja posisinya tidak seperti sekarang…apa mau dia bertukar? Dengan orang
yang mau mungkin.

Lima

menit saja untuk merasakan seperti apa kenikmatan duniawi yang dikejar hampir
seluruh mahluk yang bernafas di dunia ini.

 

Si
pengamen dengan semangat melanjutkan perjuangannya ke bis lain. Mungkin dia
sudah sangat nyaman dengan kehidupannya. Keras memang dan mengundang rasa
prihatin dari orang tetapi dia sudah settle dengan itu. Bayangkan saja ketika
kau melakoni hidup sebagai seorang narapidana selama 20 tahun dan kau bebas.
Pasti kau akan merasa asing ketika berada di tengah2 masyarakat dan memulai
aktivitas barumu..klo tidak bisa dibilang sebagai hidup baru. 20 tahun
menjalani hari dalam tembok2 tinggi dan ketika tembok2 itu hilang….satu yang
kau rasakan…ketidaknyamanan. Liat aja film Shawshank Redemption for a brief
explanation.

 

Yup
itu juga yah yang berlaku bagi mereka….ketika peran mereka sebagai anak jalanan
berakhir dan diganti menjadi anak adopsi dari keluarga berada…kemudian
bersekolah…lengkap dengan aturan baru dan mengikat…hm……. Lebih baik di jalanan,
pasti itu pikiran mereka.

Tetap
saja tidak adil. Mereka bagaimanapun harus merasakan indahnya dunia
anak2..dunia di mana kau bisa menjadi orang yang sangat jujur tanpa ada yang
menghakimi.

 

Si
gadis jadi miris sendiri melihat pertarungan hidup ini. Semuanya berjuang.

Ada

yang berjuang supaya
bisa makan…minum…ada yang berjuang supaya bisa diakui orang, berjuang supaya
bisa merasa aman. Dilakukan dengan berbagai cara, bahkan tetap dilakoni walau
mengorbankan kepentingan orang lain. Semuanya demi satu tujuan, yang sangat
simple, sederhana dan naluriah….survival..staying alive. Masalah lain yang
menyangkut soal menikmati kemudahan yang ditawarkan dunia adalah hal kedua.
Sama aja to…klo tidak hidup. Tiba2 saja si gadis lebih menghargai hadiah
kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Si gadis yakin ini bukan hadiah
Cuma2. ada maksud tertentu yang Tuhan titipkan pada hadiah itu. Dan melalui
proses yang panjang, kelak si gadis akan mengerti apa tujuan Tuhan melemparkan
dia ke dunia ciptaanNya yang luar biasa ini.

 

Aku
masih muda, batin gadis itu. Segala yang ada padaku masih mendukungku untuk
melakukan apa pun. Semuanya masih berfungsi dengan maksimal . sayang sekali
kalau hanya kusia2kan untuk berpikir tanpa ada aksi yang jelas. Mumpung tulang
saya belum keropos, otak masih cemerlang, fisik masih prima….ayo lakukan
sesuatu. Apa??? Apa pun yang bisa menambah kualitas hidup kita dan kualitas
hidup sesama. Nilai2 kemanusiaan sudah mulai kering…sirami lagi biar basah dan
mekar. Pasti akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Well jangan sekedar
bicara…do something. Dunia sudah cukup dengan orator2 yang sempurna..tapi
krisis pelaku…actor yang sebenarnya dalam kenyataan hidup sejati. Dan itulah
panggilanmu gadis manis.. atau mungkin kamu yang sedang membaca cerpen picisan  saya yang  penuh protes sosial ini? heheheheheh

 
Bis
terhenti. Si gadis turun. Di ujung jalan sudah menanti kekasihnya dengan
penampilan yang sangat sederhana tapi sempurna. Dan si gadis menemui kekasihnya
bersama dengan segudang cerita dalam otaknya. Cerita kehidupan yang
diperolehnya dari balik jendela bis

kota

.

One Response to “sepenggal kisah dari balik jendela bis kota”

  1. clara Says:

    cieeee
    duh gadis manis

Leave a Reply